Program-Penghijauan-SMP

Program Penghijauan SMP, Pelajaran Mahal dari Bencana Sumatera

Program Penghijauan SMP – Pernahkah Anda merasa bahwa berita tentang banjir bandang atau tanah longsor semakin sering terdengar belakangan ini, seolah alam sedang berteriak minta tolong?

Kita baru saja dikejutkan lagi dengan bencana yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera. Melihat lumpur menyapu pemukiman dan sekolah di televisi rasanya menyesakkan dada. Namun, di balik rasa duka itu, terselip sebuah pengingat keras bagi kita semua. Bencana ini bukan sekadar takdir, melainkan akumulasi dari hilangnya daya dukung lingkungan. Dan jika kita bicara soal perbaikan, rasanya tidak adil kalau kita hanya menuntut pemerintah atau perusahaan besar saja, sementara kita lupa menanamkan kesadaran ini sejak dini, tepat di halaman sekolah anak-anak kita.

Menanam Rasa Peduli Sejak Dini

Saya masih ingat betul suasana sekolah menengah pertama saya dulu. Halamannya gersang, panasnya bukan main saat upacara bendera. Kalau hujan turun deras sedikit saja, lapangan basket langsung berubah jadi kolam ikan dadakan. Waktu itu, kami menganggapnya biasa saja, bahkan seru karena bisa main air. Tapi sekarang, melihat dampak kerusakan lingkungan yang makin nyata, saya sadar betapa bahayanya ketidakpedulian itu.

Inilah mengapa program penghijauan SMP menjadi sangat krusial hari ini. Ini bukan sekadar menyuruh siswa membawa satu pot bunga lalu ditaruh di depan kelas. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun mindset.

Anak-anak usia SMP sedang berada di fase transisi di mana mereka mulai kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Jika di usia ini mereka diajarkan bahwa menanam pohon adalah bentuk pertahanan diri dari bencana—bukan sekadar tugas biologi—mereka akan membawanya sampai dewasa. Bayangkan jika setiap sekolah di Indonesia serius menggarap program ini, berapa juta liter air hujan yang bisa diserap tanah alih-alih menjadi aliran permukaan yang merusak?

Banyak sekolah yang semangat di awal. Beli bibit pohon mangga atau trembesi, upacara penanaman, foto-foto, lalu selesai. Seminggu kemudian? Tanamannya layu karena lupa disiram. Program yang efektif harus berkelanjutan.

Membangun Kebiasaan Kecil

Sebuah program penghijauan SMP yang sukses biasanya dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten. Misalnya:

  • Piket Tanaman: Sama pentingnya dengan piket menyapu kelas. Siswa bertanggung jawab memastikan tanaman di koridor mereka tetap hidup.
  • Komposting Sederhana: Mengubah sisa jajan atau daun kering di sekolah menjadi pupuk. Ini mengajarkan siklus alami kehidupan.
  • Adopsi Pohon: Setiap angkatan atau kelas “mengadopsi” satu pohon besar di lingkungan sekolah untuk dijaga sampai mereka lulus.

Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan ribuan sekolah, akan menciptakan sabuk hijau yang nyata. Sumatera mengajarkan kita bahwa tanah butuh akar pohon untuk memegang erat strukturnya. Kita tidak bisa menunggu bencana datang dulu baru sibuk menanam.

Ayo, Mulai Program Penghijauan SMP

Bencana di Sumatera adalah alarm yang berbunyi sangat nyaring. Kita tidak mungkin memutar waktu untuk mencegah apa yang sudah terjadi, tapi kita punya kuasa penuh untuk membentuk masa depan. Melalui program penghijauan SMP yang terencana dan tulus, kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga bijak memperlakukan bumi. Mari mulai dari halaman sekolah, satu pohon dalam satu waktu, sebelum alam memaksa kita belajar dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.

Share

You May Also Like

More From Author