Pernahkah kamu melihat anak kecil yang tiba-tiba berinisiatif mengambilkan sapu saat melihat orang tuanya membersihkan pecahan gelas? Atau, momen sederhana ketika mereka berebut ingin membantu menata piring di meja makan meski hasilnya sedikit berantakan? Momen-momen kecil itu sebenarnya adalah benih emas. Kita seringkali merasa lebih cepat dan praktis jika mengerjakannya sendiri, tapi pernahkah terpikir bahwa membiarkan mereka terlibat sekecil apapun perannya adalah pintu masuk untuk memahami manfaat gotong royong yang sesungguhnya? Pertanyaan ini sering kali lewat begitu saja di kepala kita, padahal jawabannya bisa mengubah cara anak memandang dunia sosial mereka nanti.
Belajar dari Momen Bantuin Ayah
Saya masih ingat betul kejadian minggu lalu saat warga komplek sedang sibuk membersihkan selokan. Awalnya, saya pikir anak saya yang baru berumur lima tahun bakal bosan dan minta pulang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia sibuk mondar-mandir membawa botol air mineral kosong, memunguti sampah plastik kecil yang terlewat oleh orang dewasa. Wajahnya cemong kena debu, tapi senyumnya lebar sekali.
Di situ saya sadar, bagi anak-anak, gotong royong itu bukan beban kerja. Bagi mereka, itu adalah permainan peran yang nyata. Mereka merasa dianggap dan punya kontribusi. Ini adalah manfaat gotong royong yang paling mendasar yakni rasa memiliki. Ketika mereka terlibat, mereka belajar bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Mereka tidak lagi melihat masalah lingkungan atau masalah rumah sebagai urusan orang lain, tapi sebagai urusan kita.
Banyak orang tua salah kaprah. Kita sering mengira tujuan utama mengajak anak bersih-bersih atau kerja bakti adalah supaya pekerjaan cepat selesai. Padahal, kalau mau jujur, melibatkan anak-anak seringnya malah bikin pekerjaan jadi dua kali lebih lama, kan? Tapi poinnya bukan pada efisiensi waktu. Poinnya ada pada proses transfer nilai.
Empati Tumbuh di Sela-Sela Keringat
Saat anak ikut mengangkat kursi lipat atau menyapu halaman masjid bersama teman-temannya, mereka sedang melatih otot empati mereka. Mereka melihat lelahnya orang lain dan belajar menghargai usaha tersebut. Manfaat gotong royong di sini bekerja secara halus. Anak jadi paham bahwa kenyamanan yang mereka rasakan jalan yang bersih, kelas yang rapi adalah hasil keringat banyak orang. Ini pelajaran mahal yang susah didapat hanya dari buku teks sekolah. Rasa egois mereka perlahan terkikis, digantikan oleh kepedulian.
Selain itu, interaksi sosial di lapangan jauh lebih kaya daripada di gadget. Mereka belajar negosiasi: siapa yang pegang sapu, siapa yang pegang pengki. Mereka belajar komunikasi tanpa harus diajari teori rumit. Konflik kecil mungkin terjadi, seperti rebutan alat kerja, tapi justru di situlah mereka belajar menyelesaikannya secara damai demi tujuan bersama.
Menanamkan nilai kebersamaan ini memang butuh kesabaran ekstra. Mungkin awalnya melelahkan harus mengawasi mereka, atau menahan diri untuk tidak mengomel saat mereka menumpahkan air pel. Tapi percayalah, investasi waktu dan kesabaran itu akan terbayar lunas. Ketika mereka dewasa nanti, mereka tidak akan tumbuh menjadi individu yang apatis, melainkan menjadi orang yang ringan tangan dan peka terhadap lingkungan. Pada akhirnya, manfaat gotong royong yang kita ajarkan hari ini bukan hanya untuk kebaikan lingkungan sekitar, tapi untuk membentuk karakter tangguh di dalam diri mereka sendiri.

