Fenomena prank ojol streaming menimbulkan dampak negatif besar pada reputasi content creator dan kepercayaan publik.
Beberapa bulan terakhir, prank ojol streaming marak muncul di berbagai platform. Awalnya, konsepnya tampak sederhana, content creator memanggil driver ojek online lalu membuat skenario lucu di depan kamera. Tapi lambat laun, batas antara hiburan dan penghinaan jadi kabur.
Saya sempat menyaksikan salah satu video di mana driver tampak bingung dan malu karena dipermainkan. Komentar netizen pun terbelah, sebagian menganggap lucu, sebagian lagi menilai tidak etis. Dari sinilah reputasi content creator mulai terguncang.
Antara Kreativitas dan Eksploitasi
Tidak sedikit pembuat konten yang menganggap prank ojol streaming sebagai “strategi engagement.” Ya, views dan likes memang meningkat cepat. Namun, dibalik statistik yang tinggi, ada sisi manusia yang tersakiti.
Driver ojol bukan sekadar alat hiburan. Mereka adalah pekerja yang mengejar rezeki dalam waktu yang terbatas. Ketika mereka dijadikan objek lelucon tanpa izin, nilai kemanusiaan ikut tergerus. Dan publik tidak mudah lupa dengan konten yang terasa tidak berperasaan.
Reputasi yang Terbangun Bertahun-tahun Bisa Runtuh Seketika
Membangun reputasi di dunia konten digital bukan perkara semalam. Butuh konsistensi, etika, dan empati. Namun, satu video prank ojol streaming yang melampaui batas bisa menghancurkan semuanya.
Beberapa kreator yang dulu dihormati kini kehilangan dukungan sponsor dan penonton setia karena dianggap tidak sensitif. Konten yang awalnya dimaksudkan “untuk hiburan” akhirnya berbalik menjadi bumerang.
Respons Publik, Mulai Dari Kritik hingga Boikot
Netizen sekarang jauh lebih peka terhadap isu moral dan sosial. Begitu video prank ojol streaming dianggap melanggar etika, hujan komentar negatif segera turun. Di Twitter, tagar boikot sering muncul hanya dalam hitungan jam.
Bagi brand yang bekerja sama, ini menjadi risiko reputasi besar. Mereka tak ingin dikaitkan dengan perilaku yang mengeksploitasi atau mempermalukan orang lain. Akibatnya, kreator kehilangan peluang kerja dan harus berjuang keras membangun kembali kepercayaan.
Sisi Psikologis yang Sering Diabaikan
Ada dimensi lain dari prank ojol streaming yang jarang dibahas: dampaknya pada korban. Driver ojol yang dijadikan objek bisa mengalami malu, marah, atau bahkan trauma. Tidak semua orang nyaman disorot dalam situasi tak terduga di depan ribuan penonton daring.
Ketika perasaan manusia dijadikan alat konten, empati lenyap pelan-pelan. Dan itulah yang membuat penonton mulai bosan. Mereka menuntut format hiburan yang lebih bertanggung jawab dan sehat secara emosional.
Waktu untuk Membangun Etika Baru
Kita butuh standar baru dalam dunia konten kreatif. Hiburan tidak harus melukai. Konten tetap bisa viral tanpa harus menjatuhkan martabat orang lain. Para kreator sebaiknya mulai beralih ke konsep kolaboratif, tidak sepihak, tidak pura-pura, dan tanpa unsur mempermalukan siapa pun.
Sebetulnya, prank ojol streaming bisa diubah menjadi konten positif jika diarahkan dengan empati. Misalnya, membuat kejutan menyenangkan untuk driver, bukan mempermainkan mereka. Penonton tetap dapat hiburan, tapi juga pesan kemanusiaan yang kuat.

