Dampak prank ojol terhadap psikologi driver bisa sangat serius, mulai dari stres, rasa malu, hingga trauma sosial.
Beberapa tahun terakhir, konten prank ojol mulai membanjiri media sosial. Ide utamanya tampak sederhana, mengejutkan atau mempermalukan driver ojek online demi tawa penonton. Awalnya mungkin dianggap hiburan ringan, tapi lama-kelamaan, praktik ini berubah menjadi tindakan tidak etis yang merugikan orang lain.
Kita tahu, sebagian besar driver ojol bekerja dengan sistem harian. Setiap menit, setiap pesanan, berarti uang untuk kebutuhan keluarga. Jadi ketika seseorang membuat prank dengan pura-pura pesan makanan mahal lalu membatalkannya, ada konsekuensi nyata seperti waktu terbuang, bensin habis, dan mental yang terguncang.
Stres dan Kekecewaan yang Tidak Terlihat
Menjadi driver ojol tidak mudah. Mereka menghadapi panas, hujan, macet, dan pelanggan dengan berbagai karakter. Saat ditambah aksi prank, tekanan psikologis meningkat drastis. Banyak driver merasa dipermainkan, bahkan kehilangan rasa percaya pada pelanggan berikutnya.
Stres seperti ini seringkali tidak tampak di permukaan. Namun efeknya bisa lama. Beberapa driver memilih diam, tapi di dalam hati mereka menyimpan rasa kecewa bercampur malu. Rasa itu bisa bertahan berhari-hari, bahkan lebih.
Dampak terhadap Harga Diri dan Emosi
Driver ojol menjalani pekerjaan dengan kebanggaan. Mereka mencari nafkah secara jujur, mengantarkan pesanan demi pesanan dengan senyum. Tapi saat dijadikan bahan lelucon dalam prank ojol, rasa diri mereka terkikis. Bayangkan berada di posisi mereka, terlihat bodoh di depan kamera, hanya demi konten viral.
Harga diri yang terluka sering berujung pada ledakan emosi. Beberapa mungkin marah terbuka, sementara yang lain menanggungnya diam-diam. Keduanya merusak keseimbangan emosi dan bisa menimbulkan kelelahan mental.
Efek Jangka Panjang pada Kepercayaan Sosial
Ketika prank ojol dilakukan berulang-ulang, dampaknya tidak berhenti di satu individu saja. Rasa curiga tumbuh di antara driver. Mereka mulai ragu menerima pesanan dari akun baru, atau bahkan menolak lokasi yang dianggap berisiko.
Masyarakat pun ikut terkena imbasnya. Hubungan antara pelanggan dan driver yang seharusnya saling menghormati menjadi renggang. Padahal, kepercayaan sosial adalah fondasi kecil yang membuat layanan daring tetap berjalan dengan lancar.
Tanggung Jawab Kreator Konten
Sebagian besar kreator yang melakukan prank ojol mengaku ingin menghibur. Mereka kerap menambahkan kalimat “tidak bermaksud menyakiti” di akhir videonya. Tapi niat saja tidak cukup. Tindakan tetap memiliki konsekuensi.
Kreativitas seharusnya membangun, bukan merendahkan. Membuat konten yang lucu tanpa melibatkan penderitaan orang lain jauh lebih berharga dan bertahan lama di ingatan penonton. Sudah banyak contoh kreator yang sukses tanpa menyinggung harga diri siapa pun.
Menumbuhkan Empati dan Kesadaran Bersama
Kita semua punya peran dalam menghentikan prank yang berlebihan. Penonton harus belajar menilai seperti mana hiburan, mana penghinaan. Jika konten itu merugikan seseorang, seharusnya tidak diberi tempat di linimasa kita.
Empati adalah kunci. Bayangkan saja jika saudara atau teman kita menjadi korban prank ojol tersebut. Rasa tidak adil itu akan jauh lebih terasa. Dengan memahami hal sederhana ini, dunia digital bisa menjadi ruang yang lebih manusiawi.

